Melihat Kesalahan Orang Lain Dan Menutupi Kesalahan Sendiri

Menghakimi orang lain merupakan sebuah keadaan situasional yang mengemuka ketika seseorang atau sekumpulan orang mengeluarkan suatu pernyataan yang berkaitan dengan orang lain, yang beranggapan atau menilai kalau orang lain tersebut, benar-benar telah melakukan kesalahan, meskipun anggapan atau penilaian itu, masih belum memiliki nilai kepastian akan kebenarannya. Tanpa disadari bahwa dirinya juga mempunyai kesalahan, bahkan lebih banyak kesalahannya dibandingkan dengan kesalahan orang yang dituduhkannya.

Adanya anggapan atau penilaian kalau orang lain telah berbuat salah, dihadirkan sebagai sebuah upaya untuk menyudutkan orang lain, dengan menghadirkan pemikiran imajinatif yang menempatkan orang lain pada posisi bersalah.

Tindakan menghakimi orang lain memang berkonotasi negatif, karena banyak orang yang mengekspresikan perbuatan menghakimi sebagai sebuah tindakan untuk “menghukumatau langsung memvonis orang lain.

Dalam banyak kesempatan, tindakan menghakimi orang lain diawali dengan keluarnya suatu pernyataan yang membesar-besarkan kesalahan maupun sikap tidak menyenangkan yang telah diperbuat orang lain ketika ada masalah.

Apabila dicermati lebih jauh, disikapi dengan kepala dingin, atau ditanggapi dengan tidak emosional (meredam adanya pemikiran untuk membuat orang lain sakit hati), pernyataan membesar-besarkan kesalahan orang lain atau membesar-besarkan adanya perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain itu, tidak harus dengan cara membangun opini publik yang membangun citra buruk atas diri seseorang karena perbuatan atau perilakunya.

Kenapa begitu?

Seharusnya makna perbuatan menghakimi orang lain tersebut berkonotasi positif, yaitu mendapatkan nilai kebenaran atau mendapatkan nilai kebaikan.

Kekejian perkataan yang terungkap melalui kata-kata yang mengecam untuk membuat orang lain dalam posisi bersalah, bukanlah hakekat menghakimi dari prinsip orang beragama.

Entah kenapa, orang-orang beriman sangat suka sekali memanfaatkan momentum untuk  mengingatkan (menghakimi) orang lain, dengan menghadirkan kata-kata kecaman yang diucapkan dengan menggunakan tata dan gaya bahasa yang menyakitkan.

Mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan kecaman pada saat menghakimi orang lain, menimbulkan kesan kalau kita adalah pribadi yang kasar, emosional, atau suka menekan orang lain untuk mengaku salah atau berada pada posisi bersalah.

Tekanan psikologis yang dinyatakan melalui kata-kata kecaman atau umpatan yang kita ucapkan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari orang lain, tidak mendorong orang lain untuk menyadari kesalahannya.

Sedangkan pada sisi lain, sikap kita itu tidak akan membuat kita bersekutu dengan Tuhan pada saat pikiran kita tertuju pada upaya menekan orang lain dengan kata-kata kecaman.

“Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

Orang-orang beragama dapat menghakimi orang lain, namun tindakan menghakimi tersebut, diarahkan bukan untuk menyatakan suatu tuduhan atau suatu sangkaan yang dirupakan untuk bisa menyudutkan atau mendiskreditkan orang lain, akan tetapi bertujuan untuk mengingatkan orang lain agar dapat memperbaiki kesalahan atau perilaku yang tidak baik.

Hakekat yang dicari dalam makna kata menghakimi disini adalah menempatkan keadilan.

Dalam hal ini, apabila kita menghakimi orang lain, maka kita harus bersikap adil atau menempatkan keadilan dalam menghakimi orang lain, bukan untuk menempatkan orang lain sebagai pribadi yang tidak layak untuk menerima pengampunan atau mendapat kesempatan untuk memperbaiki perilakunya.

Namun akan lebih baik lagi, apabila kita tidak menghakimi orang lain, karena sering kali manusia keliru dalam memahami dan menempatkan kata menghakimi.

Sedapat mungkin setiap orang percaya sebaiknya tidak menghakimi orang lain, karena untuk setiap perbuatan menghakimi orang lain yang dilakukannya, Tuhan sendiri akan memakai pola dan takaran yang sama pada saat dia menghakimi dan menegur kita.

Oleh sebab itu, kata menghakimi tidak selalu berkonotasi buruk. Semuanya itu sangatlah tergantung pada bagaimana cara kita dalam memahami, menafsirkan atau  menempatkan kata menghakimi pada proporsi dan tempatnya, sebab Tuhan meminta kita untuk tidak menghakimi apabila kita tidak bisa bertindak adil.

Dalam hal ini, kita tidak dapat mempergunakan pola pemahaman atau cara pandang yang sama terhadap kata menghakimi, ketika kata menghakimi dilekatkan pada hak tunggal Allah, yaitu menghakimi semua orang atas setiap tindakan maupun perilaku yang ditunjukkannya, selama nafas kehidupan ada pada manusia.

Kita harus mengingat, kalau Tuhan juga berkehendak kepada kita untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain atau bisanya melihat kesalahan orang lain, terutama apabila kehidupan kita sendiri masih belum benar dan masih dapat ditemukan kesalahan atau berselebung dosa.

Setiap orang-orang beriman harus menyadari, kalau dirinya belum tentu menjalani pola hidup benar seutuhnya, sehingga orang lain dapat pula menemukan kesalahan atau keburukkan perilaku didalam kehidupan mereka.

Jadi, ada batasan-batasan dalam bersikap yang harus dipahami dan dimengerti oleh kita, mengingat tindakan menghakimi juga dapat diberlakukan orang lain pula atas hidup mereka. Namun yang terpenting dari itu semua, biarkanlah Tuhan yang empunya kuasa bertindak sebagai Hakim terhadap perbuatan dan perilaku kita, selama menjalani kehidupan.

“Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya. Tuhan akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”

Menghakimi yang hanya didasarkan oleh dugaan semata, janganlah dipakai sebagai satu bentuk tindakan yang diberlakukan dalam hidup kita, karena sesuatu yang berawal dari dugaan, masih membutuhkan penelaahan lebih jauh, agar pada satu waktu nanti, akan ada tindakan saling menghakimi.

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!”

Kiranya Tuhan membantu serta mengingatkan kita, untuk dapat bersikap adil pada saat menghakimi orang lain, agar kelak pada waktunya nanti, Tuhan akan berkata kepada kita : “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”


17 Responses

  1. semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tdk tampak…🙂

  2. cuma ingin silaturahmi bang, sambil perkenalan

  3. saya sangat setuju jika kita harus melihat dulu kesalahan kita baru kesalahan orang lain…salam

  4. Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan 1431 H, mohon maaf Lahir dan Batin.
    Bila ada kata yang menyinggung mohon dimaafkan. Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan terus menjaga hati kita.

  5. Nice Post.., Sahabat. Link sudah saya pasang di : http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/ . Terima Kasih

  6. salam masuk, tukar barner mas, saat ini barner sudah saya pasang di blog saya. mohon dikonfirmasi ya. semoga sama sama sukses. salam persahabatan dari saya
    Aryes Novianto

  7. Solusi Cerdas Anak Bangsa…!

  8. Isinya sangat bagus. Oh..ya sahabat silahkan berkunjung ke blog saya, ya…
    Saya sedang membagi hadiah gratis untuk semua sahabat Indonesia

  9. alo bos, salam kenal🙂
    itu biasa bos kalo Melihat Kesalahan Orang Lain Dan Menutupi Kesalahan Sendiri
    btw tukeran link yuk😀
    ditunggu kabar baiknya ya🙂

  10. mantep gan…keep post

  11. salam kenal mas.tuker link yo mas, link mas dah tak pasang di blog saya.^^
    Makasih sebelum nya

  12. Kembali Berkunjung Rutin…hehehe

    Aku datang lagi nih Gan dengan membawa kabar berita terbaru, Alhamdulilah sekarang aku sudah punya web baru dengan hosting sendiri, alamat web ini Gan http://criticalillnessinsurancereview.com Please kunjungannya baliknya ya Gan…hehehe

    Salam Silaturahmi…. Nanti saya balik lagi…

  13. artikel yang bagus,…

  14. Sebelum menyalahkan orang lain, salahkan diri sendiri.lambat laun kita akan menjadi bijak. Salam kunjungan.

    blog yang semula di http://www.kumpulankaryapuisi.blogspot.com (Kumpulan Karya Puisi) sekarang berubah menjadi : http://www.puisikita.co.cc/ (Puisi Kita). Terima kasih Sahabat.

  15. demikianlah sekarang rata-rata sikut kanan kiri agar bisa naik sendiri
    Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World

  16. makasih info mas…..sangat bermanfaat…

  17. Lempar batu sembunyi tangan, bukanlah sifat orang yang sejati dan kesatria. Tiada manusia yang sempurna, manusia hidup tak luput dari salah, khilaf dan dosa. Namun begitu sebaik-baik hamba yang bersalah adalah dia yang bertaubat, memperbaiki diri dan bercermin atas kesalahan yang dilakukan. BUKAN CERMIN YANG KITA PECAH KARENA MELIHAT KEJELEKAN DIRI, tapi diri kita sendiri yang harus kita perbaiki.
    Salam persahabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: