Misteri Suksesi Dinasti Kim

kim jong 2KOMPAS.comKorea Utara adalah misteri. Tidak banyak yang diketahui dunia luar tentang negeri itu. Dunia dibuat terkaget-kaget sekaligus miris ketika tersiar berita bahwa Korut melakukan uji coba bom nuklir.

Ketika tersiar berita bahwa pemimpin tertinggi Korut Kim Jong Il terkena stroke beberapa waktu lalu dan jarang tampil di muka umum, muncul pertanyaan: benarkah berita itu? Siapa yang akan menggantikannya?

Kim Jong Il sudah berusia 67 tahun. Menurut berita-berita yang tersebar dan foto-foto yang beredar, pemimpin Korut itu sudah terlihat lebih kurus dan makin lemah. Meski demikian, ia tetap dicitrakan masih sangat berkuasa.

Akan tetapi, banyak kalangan meragukan kemampuannya untuk tetap memerintah seperti ayahnya dulu. Penunjukan saudara iparnya, Jang Song Thaek, beberapa waktu lalu menjadi anggota Komisi Pertahanan Nasional yang dipimpin Kim Jong Il sudah memicu lahirnya spekulasi bahwa Jang Song Thaek-lah yang akan disiapkan untuk menggantikannya.

Spekulasi bahwa Jang Song Thaek calon penggantinya makin santer dan kuat mengingat tak satu pun dari tiga putra lelaki Kim Jong Il dari dua istrinya dinilai layak. Kim Jong Il memiliki tiga anak laki-laki dari dua istri. Anak pertamanya adalah Kim Jong Nam, hasil perkawinan Kim Jong Il dengan Sung Hye Rim, istri keduanya. Namun, ada cerita bahwa Kim Jong Nam bukan anak Sung Hye Rim.

Cerita lainnya mengungkapkan Sung Hye Rim segera meninggalkan Korut pergi ke Moskwa setelah bertengkar dengan Kim Jong Il. Saat itu, Kim Jong Nam yang lahir pada tanggal 10 Mei 1971 baru berusia 10 tahun.

Kim Jong Nam, suatu masa pernah diyakini menjadi penerus ayahnya, Kim Jong Il. Ia pernah diangkat menjadi pejabat senior di dinas intelijen dalam negeri. Ia juga dikenal sangat tertarik pada komputer. Karena itu, pada tahun 2001, ia ditunjuk untuk memimpin komite komputerisasi dan dipercaya bertanggung jawab atas kebijakan teknologi informasi.

Kim Jong Nam yang juga terkenal dengan sebutan ”Jenderal Kecil”, sementara King Jong Il dipanggil ”Pemimpin Tercinta”, pernah diberitakan mengunjungi Jepang untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Jepang dan teknologi komputer.

Pada tahun 1995, Kim Jong Nam pernah menyusup masuk ke Jepang menggunakan paspor palsu. Otoritas keamanan Jepang tidak mengetahuinya karena selama ini sangat jarang diketahui umum wajah Kim Jong Nam seperti apa.

Nasib sial menimpa Kim Jong Nam. Pada hari Selasa, 1 Mei 2001, ia ditangkap di Bandara Narita, Jepang, ketika berusaha masuk ke negeri itu secara ilegal. Ia ditahan petugas imigrasi ketika tiba di Narita dari Singapura menggunakan pesat milik Japan Airlines dengan nomor penerbangan 712. Saat itu, ia bersama dua perempuan dan bocah lelaki berusia 4 tahun.

Saat itu, Kim Jong Nam menggunakan paspor Republik Dominika, yang di dalamnya ada keterangan pernah dua kali masuk Jepang, yakni pada bulan Oktober 2000 dan Desember 2000. Ketika diperiksa, ia berulang kali mengaku kepada pemeriksa lewat penerjemah sebagai anaknya Kim Jong Il dan ”ingin mengunjungi Disneyland di Tokyo”.

Sejak peristiwa itu, posisi Kim Jong Nam melemah. Ia diberitakan banyak menghabiskan waktunya di Rusia untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit. Ibu Kim Jong Nam, Sung Hye Rim (Sung Hae Rim), meninggal pada usia 65 tahun, antara bulan Juli atau Agustus 2002 di Moskwa.

Sung Hye Rim adalah mantan aktris. Ia menderita cardiopathology, diabetes, dan depresi mental kronik. Komplikasi penyakit itulah yang mengakhiri hidupnya. Sung Hye Rim dikenal sebagai aktris kesohor pada era 1960-an dan 1970-an.

Ia diberitakan meninggalkan Kim Jong Il karena tidak tahan atas perilaku suaminya yang suka menyeleweng. Sejak awal tahun 1980-an, Sung kemudian tinggal di Moskwa. Pada bulan Februari 1998, Sung Hae Rim dan putrinya, Sung Hye Rang, meninggalkan Moskwa pergi ke Geneva, Swiss, tetapi akhirnya Sung Hae Rim kembali ke Moskwa.

Meskipun semula Kim Jong Nam diyakini sebagai pewaris Kim Jong Il, setelah peristiwa Tokyo dan meninggalnya sang ibu, ia terlempar dari barisan ahli waris. Awal tahun 2003, diyakini Kim Jong Nam tinggal di China.

Pada tanggal 25 September 2004, Kim Jong Nam diberitakan muncul di Bandara Beijing, yang kemudian memicu keraguan akan statusnya. Karena, ketika tiba di Beijing, ia sendirian dan tidak ada penyambutan. Ia diyakini terbang dari negara ketiga, bukan dari Korea Utara. Perjalanannya ke luar negeri tanpa disertai seorang pengawal dan pejabat itu mengindikasikan bahwa dia tidak lagi dalam baris ahli waris kekuasaan Korut.

Putra kedua

Setelah nama Kim Jong Nam hilang dari barisan waris, muncullah anak kedua Kim Jong Il, yakni Kim Jong Chul yang lahir dari Koh Young Hee. Masuknya Kim Jong Chul dalam barisan ahli waris kekuasaan diberitakan oleh majalah bulanan Chosun, 18 Februari 2003. Laporan majalah itu berdasarkan dokumen Tentara Rakyat.

Kim Jong Chul yang lahir sekitar tahun 1981 pernah sekolah di Swiss. Ia pernah menduduki sebuah pos di Divisi Kepemimpinan Komite Sentral Partai Buruh. Posisi itulah yang dulu diduduki Kim Jong Il saat dipersiapkan Kim Il Sung untuk menggantikan dirinya.

Setelah studi di sekolah internasional di Bern, Swiss, Kim Jong Chul ditempatkan di divisi propaganda dan agitasi Partai Buruh. Menurut laporan sebuah majalah Korea Selatan, dia menjadi salah seorang penggemar National Basketball Association (NBA) AS dan, karena itu, ayahnya membangunkan sebuah lapangan bola basket di vila-vila milik penguasa Korut itu yang tersebar di banyak tempat.

Kantor berita Jepang, Kyodo, tanggal 15 Februari 2003 memberitakan, usaha untuk menyebarluaskan puji-pujian terhadap istri ketiga Kim Jong Il yang dikenal sebagai istri sahnya, yakni Ko Young Hee atau Ko Yong-hi, mulai dilakukan. Berita yang berasal dari dokumen militer itu diperoleh Kyodo dari ”sumber-sumber yang dapat dipercaya”.

Propaganda itu merupakan sebuah indikasi dimulainya persiapan untuk mempersiapkan Kim Jong Chol, yang saat itu berusia 23 tahun, anak kedua Kim Jong Il hasil perkawinannya dengan Ko, sebagai pengganti pemimpin Korut.

Akan tetapi, impian Kim Jong Chol akhirnya juga tidak menjadi kenyataan. Tersiar berita bahwa Kim Jong Chol kecanduan narkotik, tingkat testosteron tidak normal, dan kondisi kesehatannya buruk. Bahkan, mantan ahli masak sushi Kim Jong Il yang berasal dari Jepang, Kenji Fujimoto, dalam sebuah memoarnya yang diterbitkan pada tahun 2003 menyebut Kim Jong Chol berperilaku seperti perempuan, genit.

Putra termuda

Begitu nama Kim Jong Chol hilang dari percaturan, muncullah nama putra termuda atau ketiga Kim Jong Il, yakni Kim Jong Un atau Kim Woo. Dia diangkat untuk menduduki jabatan di Komisi Pertahanan Nasional, April lalu. Pos yang sama pernah diberikan kepada Kim Jon Nam dan ini dipandang sebagai langkah awal untuk pewarisan kekuasaan.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, tanggal 15 Januari 2009, dengan mengutip sumber-sumber yang tidak diungkapkan jati dirinya menyatakan, penunjukan Kim Jong Un untuk jabatan itu menandai penggemblengan dia sebagai pengganti. Diperkirakan, ia setahap demi setahap akan melangkah naik untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi di Komisi Pertahanan Nasional itu.

Kim Jong Un yang diperkirakan lahir pada tahun 1983 atau 1984 adalah anak ketiga dan termuda dari Kim Jong Il dengan Ko Young Hee. Ia pernah mengikuti pendidikan di Sekolah Internasional Berne, Swiss, dan diberitakan bisa berbahasa Inggris dan Jerman.

Kenji Fujimoto juga mengungkapkan bahwa Kim Jong Il lebih memilih Kim Jong Un ketimbang kakaknya, Kim Jong Chol, karena Kim Jong Un ”benar-benar seperti ayahnya”.

Indikasi tentang penunjukan Kim Jong Un juga ditandai dengan kemunculan dia di tempat pemungutan suara untuk memilih para anggota Majelis Rakyat Tertinggi, parlemen Korut yang sebenarnya lebih sebagai ”tukang stempel” saja. Berita tentang kemunculan Kim Jong Un itu diungkapkan oleh BBC pada tanggal 8 Maret 2009.

Namun, indikasi awal itu tidak serta merta bisa dijadikan dasar bagi sebuah keyakinan. Pada tahun 1973, Pemimpin Besar Korut Kim Il Sung mengangkat Kim Jong Il sebagai calon penggantinya. Baru 20 tahun kemudian, tahun 1994, Kim Jong Il menggantikan posisi ayahnya sebagai orang nomor satu di Korut.

Kini, tanda-tanda bahwa Kim Jong Un sebagai ”pewaris” kekuasaan Korut semakin jelas dan nyata. Meskipun masih diberi catatan: Kim Jong Un menderita tekanan darah tinggi dan diabetes.

Apa pun yang terjadi di Korut rasanya tidak akan berdampak banyak bagi dunia internasional dan juga mengubah Korut selama sistem keluarga tetap dipertahankan dan keluarga Kim tetap memegang kendali kekuasaan.

2 Responses

  1. Halo kawans
    Terimakasih atas kunjungannya di blog proibadi saya BakuDara.Com. Kunjungan dan saran di lain waktu selalu dinanti. Sangat senang kiranya Bakudara.Com dimasukan dalam Link Blog kawans. Semoga kedepan kita dapat saling berkomunikasi dan bekerja sama.

    jabat erat dari jauh

    Salam Super!!!

    Jejak Annas
    BakuDara.Com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: